8 April, Juz 8
Bismillah.
Juz 5 dan Juz 6 memperlihatkan bagaimana sistem bisa rusak dan masyarakatnya memilih diam. Hari ini bacaanku turun satu lapis lebih dalam, ke sumber yang melahirkan semua itu. Ternyata pangkalnya bukan sosial, bukan pula struktural, tapi penyakit batin. Namanya baghyu, kedurhakaan yang sudah melewati batas, dan saudaranya yang tidak kalah merusak, yaitu kegemaran memecah agama menjadi kotak-kotak golongan demi kebanggaan kelompok.
Salah satu akibat dari baghyu itu Allah sebut dengan sangat spesifik.
Wa ‘alal ladzīna hādū ḥarramnā kulla dzī ẓufur, wa minal baqari wal ghanami ḥarramnā ‘alaihim syuḥūmahumā illā mā ḥamalat ẓuhūruhumā awil ḥawāyā aw makhtalaṭa bi’aẓm, dzālika jazaināhum bibaghyihim, wa innā laṣādiqūn.
“Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku, dan dari sapi dan domba Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, kecuali lemak yang menempel di punggungnya atau yang di dalam isi perutnya atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami menghukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka (baghyihim), dan sesungguhnya Kami Maha Benar.” (QS 6:146)
Ayat ini seperti kunci yang membuka semua yang aku baca sejak awal bulan. Aturan berat yang menimpa mereka itu bukan aturan bawaan yang memang sulit sejak semula. Itu konsekuensi dari kelakuan mereka sendiri yang membangkang berulang-ulang. Hidup yang tadinya lapang pelan-pelan menyempit. Yang tadinya halal berubah haram. Yang tadinya ringan berubah memberatkan. Bukan karena Allah ingin menyusahkan, tapi karena itulah balasan yang setimpal dengan kedurhakaan yang tidak pernah berhenti.
Polanya konsisten kalau ditarik dari juz-juz sebelumnya. Juz 2 memperlihatkan mereka mulai mengakali perintah. Juz 3 mereka naik level ke manipulasi agama. Juz 5 hukumnya diselewengkan secara sistemik. Dan hasil akhirnya kelihatan sekarang, ruang hidup mereka menyempit oleh tangan mereka sendiri. Kalau ditarik ke urusan peradaban, hukumnya kira-kira sama. Begitu integritas hilang, sistem akan membalas dengan aturan yang makin ketat dan makin membebani. Aku jadi ingat bagaimana kantor atau organisasi mana pun berubah kaku setelah satu dua orang mengakali celah aturannya, lalu semua orang ikut menanggung prosedur baru yang berlapis-lapis.
Penyakit kedua yang dibongkar di juz ini sifatnya lebih halus, tapi daya rusaknya besar.
Innal ladzīna farraqū dīnahum wa kānū syiya’an lasta minhum fī syai’, innamā amruhum ilallāh, tsumma yunabbi’uhum bimā kānū yaf’alūn.
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan-golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah kepada Allah, kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS 6:159)
Agama yang mestinya menyatukan malah dipotong-potong jadi identitas kelompok. Tiap golongan merasa paling benar, paling suci, dan memandang rendah yang lain. Fungsinya bergeser, dari kompas moral menjadi alat pembenaran dan bahan kebanggaan. Ini lanjutan dari baghyu juga, karena begitu ego yang memegang kemudi, kebenaran berhenti dicari dan mulai diklaim.
Jawaban Allah atas semua itu ternyata sederhana sekali.
Wa anna hādzā ṣirāṭī mustaqīman fattabi’ūh, wa lā tattabi’us subula fatafarraqa bikum ‘an sabīlih, dzālikum waṣṣākum bihī la’allakum tattaqūn.
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS 6:153)
Obatnya bukan menambah label, bukan pula memperkuat identitas kelompok, melainkan pulang ke jalan yang lurus. Kebenaran yang objektif, bersumber dari wahyu, bukan dari sentimen. Jalan seperti itu menyatukan, bukan memecah. Ia menundukkan ego, bukan memberinya panggung.
Kalau semua dirangkai dari Juz 1 sampai Juz 8, arah kerusakannya bergerak dari dalam ke luar. Bermula dari cara berpikir yang rusak, lalu tindakan yang menyimpang, lalu dicarikan pembenaran moral, dipertahankan dengan kekuasaan, dilembagakan jadi sistem, didiamkan oleh masyarakatnya, sampai akhirnya mengendap menjadi penyakit spiritual yang dalam. Kalau sudah sampai tahap terakhir, kehancuran bukan lagi kemungkinan, melainkan tinggal menunggu jadwalnya.
Wallahu a’lam.


