2 April · Juz 2
Bismillah.
Jujur saja, rasanya geram melihat berita tentang sanggahan Wakil Israel di PBB terkait gugurnya tiga prajurit TNI kita di Lebanon Selatan. Rasanya seperti menyaksikan manipulasi kelas dunia. Di sidang PBB, Danny Danon membantah keterlibatan militernya, mengalihkan tuduhan kepada pihak lain, memainkan narasi sebagai korban, dan berlindung di balik alasan bahwa wilayah tersebut merupakan zona perang aktif. Syukurlah, diplomat Indonesia merespons dengan tegas dan menuntut investigasi secara menyeluruh.
Pola komunikasi seperti ini memang membuat kesal. Namun semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa cara bermain narasi seperti ini sebenarnya sudah lama dibongkar oleh Al-Qur’an. Melanjutkan tadabbur di bulan April ini, saat membaca Juz 2 (QS Al-Baqarah: 142–252), terlihat bagaimana Al-Qur’an mengupas bentuk-bentuk penyimpangan intelektual yang begitu halus namun berbahaya.
Apa yang kita lihat di panggung global hari ini adalah contoh dari apa yang dalam ilmu komunikasi dikenal sebagai intentional concealment, yaitu sengaja menyembunyikan kebenaran, dan gaslighting, yaitu membuat orang lain meragukan fakta yang sebenarnya. Allah menggambarkan sifat ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 146. Mereka sebenarnya mengenal kebenaran dengan sangat baik, bahkan seperti mengenali anak-anak mereka sendiri, tetapi sebagian dari mereka sengaja menyembunyikannya. Pengetahuan yang tinggi tidak dipakai untuk mencari kebenaran, melainkan untuk membangun disinformasi.
Taktik memutarbalikkan narasi juga terlihat pada ayat 142. Mereka disebut sebagai orang-orang yang kurang akal bukan karena tidak cerdas, tetapi karena sengaja memprovokasi persoalan perubahan arah kiblat untuk mengalihkan perhatian dari substansi yang jauh lebih penting.
Lalu ada pula contoh lain pada ayat 246. Mereka begitu bersemangat meminta diangkatkan seorang pemimpin untuk berperang. Namun ketika perintah itu benar-benar datang, sebagian besar justru mundur.
Saat Talut dipilih sebagai pemimpin pada ayat 247, penolakannya bukan karena ia tidak layak, melainkan karena bukan berasal dari kalangan terpandang atau berharta. Cara berpikir seperti ini terasa sangat elitis.
Puncaknya terlihat pada kisah ujian sungai di ayat 249. Perintahnya sangat sederhana: jangan minum dari sungai itu kecuali sekadar satu cedukan dengan tangan. Namun sebagian besar gagal menahan diri. Kalau ujian yang tampaknya sederhana saja tidak mampu dilewati, bagaimana mungkin siap menghadapi ujian yang jauh lebih besar? Pada akhirnya, kemenangan justru diraih oleh kelompok kecil yang mampu menjaga disiplin, dan dari kelompok itulah kemudian muncul sosok Dawud yang kelak menjadi pemimpin besar.
Yang menarik, Al-Qur’an tidak menggambarkan mereka sebagai orang-orang bodoh. Mereka justru cerdas, analitis, dan mampu membangun argumentasi. Masalahnya bukan pada kecerdasan, melainkan pada arah penggunaannya. Ketika kecerdasan dipadukan dengan ego, lahirlah manipulasi. Sebaliknya, ketika kecerdasan dipandu oleh ketakwaan, lahirlah kejujuran intelektual.
Lalu bagaimana menghadapi orang yang gemar memanipulasi dalam kehidupan sehari-hari?
Psikologi modern menawarkan salah satu pendekatan yang dikenal sebagai grey rocking, yaitu bersikap datar seperti batu abu-abu. Orang yang manipulatif biasanya mencari reaksi emosional. Semakin kita terpancing, semakin mereka merasa berhasil. Karena itu, lebih baik tetap tenang, profesional, dan tidak reaktif. Fokuslah pada data dan fakta, lalu arahkan kembali pembicaraan ke pokok persoalan ketika mereka mulai mengalihkan isu.
Menariknya, prinsip serupa juga tampak dalam Al-Baqarah ayat 142. Ketika muncul provokasi tentang arah kiblat, Allah mengajarkan jawaban yang singkat, jelas, dan langsung pada intinya: “Milik Allah timur dan barat.” Tidak ada debat yang berlarut-larut. Tidak ada energi yang dihabiskan untuk melayani provokasi. Cukup menyampaikan kebenaran dengan tegas.
Tadabbur Juz 2 hari ini terasa seperti mengajak bercermin. Ini bukan sekadar tentang mereka yang tampil di panggung PBB atau tentang kisah Bani Israil di masa lalu. Jangan-jangan kita pun pernah tergoda memoles fakta agar terlihat lebih baik, mencari pembenaran saat salah, atau menggunakan kecerdasan untuk memenangkan perdebatan, bukan untuk menemukan kebenaran.
Pada akhirnya, kapasitas seseorang tidak diukur dari seberapa lihai ia bersilat lidah, tetapi dari seberapa jujur ia memegang kebenaran, seberapa bertanggung jawab ia menjalankan amanah, dan seberapa kuat ia mengendalikan diri saat menghadapi ujian.
Aksi kecilku hari ini: berhenti bersilat lidah, berani berkata jujur, memikul tanggung jawab, dan melatih diri menahan hawa nafsu dalam ujian-ujian kecil di sekitar. Ketika berhadapan dengan manipulasi, jangan ikut bermain dalam dramanya.
Wallahu a’lam.


