Hari keenam, 20 September, Juz 20

Bismillah

Dari semua rangkaian di tanah suci, yang paling sedih itu tawaf wada. Tawaf perpisahan. Karena setelah itu, biasanya kita bertolak pulang.

Tawaf wada siang itu

Pada satu kesempatan, aku dan istri melakukan tawaf wada ba’da Dzuhur. Suasananya sepi. Kebanyakan jamaah sedang makan siang, dan matahari sedang terik-teriknya.

Selesai tawaf, kami menutupnya dengan berfoto ria. Sekian foto, sekian gaya, sekian latar belakang. Mumpung sepi.

Suasana foto seperti itu lazim di sana. Banyak orang melakukannya.

Lalu ada seorang jamaah yang tampaknya sendirian. Dari wajah dan logatnya, sepertinya dari kawasan Asia Tengah, sekitar Uzbekistan. Dia minta tolong difotokan.

Sebagai pengarah gaya, biasalah. Hadap sini, hadap situ. Lalu aku usulkan pose dengan latar belakang jam gadang Makkah, menara jam raksasa yang menjulang di sebelah Masjidil Haram.

Dia menolak. No, katanya. Dia maunya Ka’bah. Jam gadang itu tidak ada nilainya.

MasyaAllah. Hal kecil sekali. Tapi langsung terbersit di hatiku: perjalanannya memang fokus untuk Ka’bah. Bukan yang lain. Dan fokus Ka’bah artinya fokus ibadah.

Tidak seperti aku.

Aku sudah ke Thaif. Ke kebun mawar tempat minyak wangi dibuat. Makan kambing guling asli Arab. Mampir ke toko buah segar di pinggir jalan Thaif. Berbagai atraksi lain. Termasuk belanja di Pasar Kakiyyah, pusat grosir yang oleh jamaah Indonesia sering disebut ITC-nya Makkah.

Kota yang terus berbenah

Makkah dan Madinah memang terus berbenah. Wisata, kuliner, tempat belanja. Dari kaki lima, kaki beton, sampai kaki mewah, semuanya ada, seabrek. Kedua kota suci itu kini juga jadi kota destinasi wisata.

Bagus, karena banyak pilihan. Tapi sekaligus jadi ujian.

Semakin banyak yang ditawarkan di sekeliling Ka’bah, semakin mudah perhatian kita terbagi. Dan godaannya tidak datang dalam bentuk maksiat. Godaannya datang dalam bentuk hal-hal yang halal, menyenangkan, dan terasa wajar. Justru karena itu lebih sulit disadari.

Musa yang berangkat sendirian

Juz 20 memuat Surat Al-Qashash, dan hampir seluruh isinya kisah Musa. Salah satu bagiannya perjalanan Musa ke Madyan.

Musa berangkat sendirian, melarikan diri dari Mesir. Tanpa bekal, tanpa kenalan, tanpa tahu persis jalannya. Dan doanya di awal perjalanan sederhana sekali:

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاۤءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسٰى رَبِّيْٓ اَنْ يَّهْدِيَنِيْ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ

“Dan ketika dia menuju ke arah negeri Madyan, dia berdoa, ‘Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.'” (Al-Qashash: 22)

Sampai di Madyan, dia membantu dua perempuan memberi minum ternaknya. Lalu dia berteduh dan berdoa lagi:

فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

“Maka dia memberi minum ternak itu untuk keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.'” (Al-Qashash: 24)

Musa tidak punya apa-apa selain Tuhannya. Dan justru karena itu doanya jernih sekali. Tidak ada yang mengalihkan.

Aku jadi teringat jamaah dari Asia Tengah itu. Mungkin dia juga tidak punya apa-apa lagi untuk dikejar di sana, selain Ka’bah. Tidak ada rombongan yang mengajak ke Thaif, tidak ada jadwal belanja. Cuma dia dan rumah yang dia datangi.

Dan justru itu yang membuatnya tahu persis fotonya mau diambil dengan latar apa.

Akhirat dulu, dunia jangan dilupakan

Masih di surat yang sama, ada kisah Qarun. Orang yang hartanya begitu banyak sampai kunci-kunci gudangnya berat dipikul sekelompok orang kuat. Kaumnya menasihatinya dengan kalimat yang sangat seimbang:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (Al-Qashash: 77)

Perhatikan urutannya. Akhirat yang dicari. Dunia yang jangan dilupakan. Yang pertama jadi tujuan, yang kedua jadi bagian.

Aku rasa itulah jawaban untuk pertanyaanku sendiri siang itu.

Niat ibadah lalu dilengkapi, atau dicampur, atau apalah namanya, dengan hal-hal lain. Ke Thaif, wisata kuliner, belanja oleh-oleh di Kakiyyah. Tentu sah-sah saja. Asalkan ada waktunya, ada tempatnya. Dan kita tahu kapan harus fokus beribadah.

Masalahnya bukan pada Thaif atau kambing guling. Masalahnya kalau urutannya terbalik. Kalau yang jadi tujuan justru daftar tempat wisata, dan ibadahnya jadi sekadar bagian dari jadwal.

Qarun gagal bukan karena kaya. Dia gagal karena mengira semua hartanya hasil kepintarannya sendiri, lalu lupa untuk apa semua itu diberikan.

Satu hal yang masih bisa aku jaga

Dari semua yang aku campurkan dalam perjalanan-perjalanan itu, ada satu hal yang alhamdulillah masih bisa aku jaga: aku menghindari media sosial.

Tidak mengunggah, tidak berbagi cerita, tidak memamerkan. Foto tetap diambil, tapi untuk kenangan sendiri.

Itu mungkin cara kecilku menjaga supaya urutannya tidak terbalik terlalu jauh.

Segala sesuatu binasa

Surat Al-Qashash ditutup dengan kalimat ini:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ

“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya.” (Al-Qashash: 88)

Menara jam itu megah. Hotel-hotel di sekelilingnya megah. Kebun mawar di Thaif indah. Pusat belanja di sekitarnya ramai. Tapi semuanya akan binasa.

Jamaah dari Asia Tengah itu mungkin tidak sedang memikirkan ayat ini. Tapi dia sudah mempraktikkannya dengan satu kata: no.

Contekan dari sekarang

Karena itulah aku merasa beruntung mendapat pelajaran ini jauh sebelum berangkat lagi.

Kalau dari sekarang kita sudah punya contekannya, insyaAllah nanti di sana kita tahu mana fokus besar kita. Ka’bah, bukan jam gadang. Ibadah, bukan atraksi.

Pilihan di sana akan terus bertambah. Kota itu akan terus berbenah. Yang perlu dibenahi sejak sekarang justru hati kita sendiri, supaya tidak ikut terbagi.

Ya Allah, izinkan aku kembali

Setiap kali tawaf wada selesai, aku selalu membisikkan satu kalimat yang sama: Ya Allah, izinkan aku kembali lagi.

Ternyata di juz ini ada ayat yang terasa seperti jawabannya.

اِنَّ الَّذِيْ فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لَرَاۤدُّكَ اِلٰى مَعَادٍ

“Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.” (Al-Qashash: 85)

Ayat ini untuk Nabi Muhammad ﷺ. Menurut riwayat dari Ibnu Abbas, tempat kembali yang dimaksud adalah Makkah. Sebagian riwayat menyebut ayat ini turun ketika beliau dalam perjalanan hijrah, meninggalkan Makkah dengan hati yang berat.

Dan janji itu ditepati. Beliau kembali.

Aku tidak berani menganggap janji itu untukku. Ayat itu milik Nabi. Tapi setidaknya aku tahu: rindu kepada tanah suci bukan rindu yang sia-sia. Dan aku tahu kepada siapa bisikan di akhir tawaf wada itu harus disampaikan.

Pelajarannya

Satu pelajaran dari seorang jamaah yang tidak aku ketahui namanya: kalau datang untuk Ka’bah, fotonya pun dengan Ka’bah. Bukan fotonya, tapi fokusnya untuk ibadah.

Ya Allah, izinkan kami kembali lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News