15 April, Juz 15
Bismillah.
Juz 15 dibuka dengan Al-Isra dan berakhir di Al-Kahfi ayat 74, dan ada pergeseran besar yang terjadi di sini. Empat belas juz sebelumnya sibuk membedah anatomi penyakitnya, mulai dari manipulasi hukum, krisis amanah, sampai ilusi rasa aman. Begitu masuk juz ini, Al-Qur’an tidak lagi membedah. Ia langsung membeberkan nubuat besar tentang panggung sejarah dunia.
Surat pembukanya Al-Isra, yang di kalangan ulama tafsir juga dikenal sebagai Surat Bani Israil. Alasannya ada di ayat-ayat awalnya, karena di situ Allah secara terbuka membedah nasib akhir sekaligus siklus jatuh bangun entitas ini. Kalau dibaca berurutan, delapan ayat pertamanya terasa seperti membaca satu skenario lengkap dari awal sampai akhir.
Adegan pertama berupa vonis yang dijatuhkan jauh sebelum kejadiannya.
Wa qaḍainā ilā banī isrā’īla fil-kitābi latufsidunna fil-arḍi marratayni wa lata’lunna ‘uluwwan kabīrā.
“Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, ‘Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.'” (QS 17:4)
Dua kerusakan itu sudah tercatat dalam sejarah. Ketika mereka menyimpang di masa kuno, Allah mendatangkan Nebukadnezar dari Babilonia pada 586 SM yang meratakan pusat kekuatan mereka dan menundukkan mereka. Ketika kerusakan itu diulang, Allah mendatangkan Romawi pada tahun 70 Masehi yang menghancurkan Yerusalem dan menyerakkan mereka ke seluruh penjuru dunia.
Adegan berikutnya justru berisi kemenangan, dan bagian ini yang sering terlewat.
Tsumma radadnā lakumul-karrata ‘alaihim wa amdadnākum bi amwāliw wa banīna wa ja’alnākum akṡara nafīrā.
“Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.” (QS 17:6)
Kekuatan finansial, dukungan militer, dan jaringan global yang luas itu ternyata bagian dari skenarionya, bukan tanda keridhaan. Giliran berkuasa justru panggung tempat tabiat asli dipertontonkan secara terbuka. Selama masih lemah, semua orang bisa terlihat baik. Karakter sesungguhnya baru ketahuan waktu semua alat kekuasaan sudah ada di tangan, dan pilihannya tinggal dua, berlaku adil atau melampaui batas.
Adegan setelahnya menjelaskan bagaimana giliran itu berakhir.
…fa idzā jā’a wa’dul-ākhirati liyasū’ū wujūhakum wa liyadkhulul-masjida kamā dakhalūhu awwala marratiw wa liyutabbirū mā ‘alau tatbīrā.
“…Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang terakhir, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan wajahmu dan mereka masuk ke dalam masjid sebagaimana pada kali pertama, dan untuk membinasakan sehancur-hancurnya apa saja yang mereka kuasai.” (QS 17:7)
Frasa liyasū’ū wujūhakum menarik sekali, artinya menyuramkan atau mempermalukan wajah. Yang disebut lebih dulu bukan bangunannya, bukan pasukannya, melainkan wajahnya. Reputasi runtuh dulu, kehancuran fisik menyusul kemudian.
Fase itu sedang berlangsung sekarang. Narasi yang dibangun bertahun-tahun mulai rontok. Opini publik di berbagai negara berbalik, kritik yang dulu tabu sekarang diucapkan terbuka, dan legitimasi moral mereka terkikis hari demi hari. Ini bukan akhir cerita, melainkan pembuka babak berikutnya yang lebih besar.
Dan penutup dari rangkaian ini yang paling membuatku merinding.
‘Asā rabbukum ay yarḥamakum, wa in ‘udtum ‘udnā…
“Mudah-mudahan Tuhanmu melimpahkan rahmat-Nya kepadamu; tetapi jika kamu kembali (melakukan kejahatan), niscaya Kami kembali (mengazabmu)…” (QS 17:8)
Wa in ‘udtum ‘udnā. Kalau kalian mengulang, Kami pun mengulang. Kalimat itu yang mengubah seluruh rangkaian tadi dari catatan sejarah menjadi hukum yang masih berlaku. Ini bukan cerita tentang dua peristiwa yang sudah lewat, melainkan pola yang berjalan terus selama syaratnya dipenuhi.
Dan syaratnya sedang dipenuhi. Kesombongan yang dipamerkan di panggung global, hukum internasional yang dilanggar tanpa rasa bersalah, dan kekerasan yang dicarikan pembenaran. Semua itu masuk dalam kategori wa in ‘udtum. Bagian ‘udnā tinggal soal waktu.
Al-Qur’an ternyata tidak sedang bercerita tentang masa lalu. Ia sedang menjelaskan pola yang terus berputar. Kesombongan, pelanggaran, dan penyalahgunaan kekuatan tidak pernah sekali pun berakhir dengan kemenangan yang abadi. Justru dari situlah siklus kehancuran dimulai.
Bentuk kekuatannya boleh berganti, entah politik, militer, atau ekonomi. Hukumnya tetap satu. Begitu batas dilampaui, kehancuran cuma soal jadwal.
Wallahu a’lam.


