Hari kesebelas, 25 September, Juz 25
Bismillah
Juz 25 memuat doa yang paling akrab bagi siapa pun yang bepergian.
سُبْحٰنَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهٗ مُقْرِنِيْنَ ۙ وَاِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ
“Mahasuci Allah yang telah menundukkan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” (Az-Zukhruf: 13–14)
Kita biasa membacanya saat pesawat mulai bergerak di landasan. Tapi aku yakin sekali, untuk perjalanan yang satu ini, doa itu tidak cukup diucapkan ketika kita sudah duduk di dalam pesawat.
Doa yang sesungguhnya dimulai sejak berniat.
Labbaik ya Allah, aku akan datang memenuhi panggilan-Mu. Semoga sejak hari ini sampai hari keberangkatan, sampai aku menjalankan manasik, sampai aku pulang kembali, semuanya Engkau mudahkan.
Karena kalau dibaca pelan-pelan, isi doa itu memang bukan tentang kendaraan. Wa ma kunna lahu muqrinin, padahal kami tidak mampu menguasainya. Itu pengakuan bahwa yang sedang membawa kita bukan mesin, bukan tiket, bukan biro perjalanan.
Dan aku punya cerita kenapa aku seyakin itu.
Manasik di Cawang
Akhirnya undangan manasik datang. Kami berkumpul di sebuah hotel di bilangan Cawang, Jakarta.
MasyaAllah, jamaahnya ramai. Ruangannya besar, dan aku perkirakan ada empat sampai lima ratus orang. Ada orang tua, ada yang membawa anak-anak, ada yang berpasangan. Semua wajah penuh harap.
Kami berkenalan dengan jamaah di sebelah tempat duduk. Yang kami temui kebanyakan rombongan haji furada. Hampir semua yang kami ajak bicara begitu.
Kami juga dipertemukan dengan dokter dari rombongan lain, beliau tinggal di sebuah kota di Kalimantan. Istriku langsung mengobrol panjang dengan beliau, merencanakan apa saja yang perlu dibawa.
Manasik itu diselenggarakan konsorsium haji Mitra Umat, gabungan dari berbagai travel. Karena istriku dokter haji, koordinasi dengan pengurus rombongan jadi intensif. Persiapan obat-obatan, daftar jamaah yang punya penyakit bawaan, dan banyak hal teknis lainnya.
Semua terasa siap.
Hotel dekat bandara
Tibalah saat keberangkatan. Kami diinapkan di sebuah hotel dekat Bandara Soekarno-Hatta.
Semuanya kelihatan normal, sampai aku mendengar ada calon jamaah dari luar daerah yang sudah berhari-hari tinggal di hotel itu.
Kapan berangkat, Bu?
Belum tahu, katanya.
Aku ingat jawaban itu. Belum tahu. Sudah jauh-jauh datang dari daerah, sudah membawa koper, sudah pamit kepada seluruh kampung, lalu menunggu di kamar hotel tanpa kepastian.
Kami menginap semalam, dan pagi harinya bergerak ke bandara.
Rombongan yang menyusut
Setelah transit, kalau tidak salah di Doha, kami sampai di Jeddah.
Dan di situ aku mulai paham sesuatu. Rombongan kami ternyata kecil sekali dibandingkan yang aku lihat waktu manasik. Karena ternyata kami tidak dapat info ada rombongan lain, termasuk yang menggunakan pesawat lain.
Sampai di hotel di Makkah, alhamdulillah, istirahat sebentar dan kami bersiap untuk umrah. Haji kami tamattu’, jadi umrah diselesaikan lebih dulu, lalu menunggu Yaumut Tarwiyah, hari ketika jamaah bergerak ke Mina.
Selepas umrah dan setelah beristirahat, barulah kami mengerti duduk perkaranya.
Hotel yang sudah disewa konsorsium itu sebagian besar kamarnya kosong. Dari seluruh jamaah konsorsium, yang visanya keluar dan akhirnya berangkat hanyalah jamaah ONH Plus. Jamaah furada masih menunggu.
Menjelang hari H, datang empat atau lima orang. Visa furada mereka akhirnya keluar.
Yang lain tidak. Mereka belum diperkenankan Allah untuk berhaji tahun itu.
Aku diam agak lama memikirkan itu. Orang-orang yang duduk di sebelahku waktu manasik, yang bertukar nomor telepon, yang sudah membicarakan barang bawaan, sebagian besar tidak sampai.
Lalu aku melirik visa di tanganku sendiri. Visa petugas haji. Sesuatu yang tidak pernah aku cari, tidak pernah aku rencanakan, dan datang lewat satu telepon yang tidak kami duga.
Bukan kendaraan yang membawa
Di sinilah doa tadi berubah artinya buatku.
Wa ma kunna lahu muqrinin. Padahal kami tidak mampu menguasainya.
Kamar hotel sudah dibayar. Koper sudah dikemas. Manasik sudah diikuti sampai tuntas. Biro perjalanan sudah bekerja. Semua yang bisa diusahakan manusia sudah diusahakan.
Tapi satu lembar visa tidak keluar, dan semuanya berhenti.
Itu bukan kesalahan siapa-siapa. Aku tidak sedang menuding travel mana pun. Jalur visa undangan memang punya ketidakpastiannya sendiri, dan itu di luar kendali siapa pun di lapangan.
Yang mau aku catat cuma satu: kita ini benar-benar tidak menguasai apa pun.
Surat Asy-Syura di juz yang sama menegaskannya:
اَللّٰهُ لَطِيْفٌۢ بِعِبَادِهٖ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيْزُ
“Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya. Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Asy-Syura: 19)
Dan haji itu rezeki. Sama seperti rezeki yang lain, bukan kita yang menentukan porsinya.
Yang tertahan belum tentu tertolak
Ada satu hal yang perlu aku tambahkan, supaya tulisan ini tidak terasa seperti menghakimi yang tidak jadi berangkat.
Orang yang tertahan tahun itu bukan orang yang ditolak. Niat mereka sudah tercatat. Uang yang mereka keluarkan sudah dikeluarkan. Manasik yang mereka pelajari sudah masuk ke dada mereka.
Kita pernah membaca kisah Hudaibiyah: satu rombongan penuh, dipimpin Nabi sendiri, sudah berihram, sudah sampai di dekat Makkah, lalu dipulangkan tanpa bisa masuk ke untuk berhaji. Kalau itu bisa terjadi pada rombongan terbaik sepanjang sejarah, maka jamaah yang tertahan bukan tanda apa-apa selain bahwa waktunya belum tiba.
Yang berangkat tidak lebih mulia. Yang tertahan tidak lebih rendah. Bedanya cuma giliran.
Kembali ke arah yang benar
Bagian doa tadi yang paling sering terlewat justru penutupnya.
Wa inna ila rabbina lamunqalibun. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.
Aneh kalau dipikir. Doa untuk berangkat, tapi ditutup dengan kalimat tentang kembali.
Rupanya memang itu maksudnya. Setiap perjalanan, sejauh apa pun, hanya potongan kecil dari satu perjalanan besar yang arahnya cuma satu. Naik pesawat ke Jeddah, naik mobil ke kantor, naik motor ke pasar, semuanya bergerak ke tujuan akhir yang sama.
Maka doa naik kendaraan itu sebenarnya bukan doa supaya selamat sampai tujuan. Itu doa supaya kita tidak lupa ke mana sebenarnya kita sedang menuju.
Yang aku bawa pulang dari manasik Cawang itu
Empat sampai lima ratus orang di ruangan itu punya niat yang sama, membayar dengan sungguh-sungguh, dan belajar manasik dengan serius.
Sebagian sampai. Sebagian belum.
Sejak itu aku tidak pernah lagi menganggap keberangkatan sebagai urusan administrasi. Dokumen tetap diurus, biaya tetap disiapkan, ilmu tetap dipelajari. Tapi semuanya dilakukan sambil sadar bahwa yang menentukan bukan berkas di tangan kita.
Jadi aku berdoa sejak sekarang, jauh sebelum pesawat lepas landas. Bukan doa agar tiket terbeli, tapi doa agar diberangkatkan oleh Yang punya kuasa untuk memberangkatkan.
Sisanya, seperti bunyi doa itu sendiri, memang tidak pernah ada dalam genggaman kita.






