Hari kedelapan, 22 September, Juz 22
Bismillah
Juz 22 memuat Surat Saba’. Namanya diambil dari sebuah negeri di Yaman yang dulu sangat makmur. Dan di tengah kisahnya ada doa yang aneh sekali. Doa tentang perjalanan, tapi isinya terbalik.
Negeri yang baik, Tuhan yang Maha Pengampun
Negeri Saba’ punya dua kebun besar, di sebelah kanan dan kiri. Airnya melimpah, hasil buminya subur. Al-Qur’an menyebutnya dengan satu kalimat yang sampai sekarang sering kita pakai untuk mendoakan negeri sendiri: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang baik, dan Tuhan yang Maha Pengampun.
Dan bukan cuma makmur. Perjalanan mereka pun dimudahkan.
وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَّقَدَّرْنَا فِيْهَا السَّيْرَ ۗ سِيْرُوْا فِيْهَا لَيَالِيَ وَاَيَّامًا اٰمِنِيْنَ
“Dan Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi, beberapa negeri yang berdekatan, dan Kami tetapkan jarak-jarak perjalanan di antaranya. Berjalanlah kamu di negeri-negeri itu pada malam dan siang hari dengan aman.” (Saba’: 18)
Bayangkan. Di sepanjang rute perjalanan, desa-desa berdekatan dan saling terlihat. Jaraknya terukur. Bisa berangkat pagi, siang sudah sampai di persinggahan berikutnya. Aman, malam maupun siang. Tidak perlu membawa banyak bekal, tidak perlu takut dirampok.
Itu kemudahan perjalanan yang luar biasa untuk zamannya.
Lalu mereka berdoa
فَقَالُوْا رَبَّنَا بٰعِدْ بَيْنَ اَسْفَارِنَا وَظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنٰهُمْ اَحَادِيْثَ وَمَزَّقْنٰهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ
“Maka mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,’ dan mereka menzalimi diri mereka sendiri. Maka Kami jadikan mereka bahan pembicaraan, dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.” (Saba’: 19)
Rabbana ba’id baina asfarina. Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami.
Mereka bosan dengan kemudahan. Perjalanan yang terlalu gampang terasa tidak istimewa lagi. Sebagian mufassir menjelaskan, mereka ingin perjalanan dipersulit supaya hanya orang-orang berada yang sanggup bepergian dan berdagang jauh. Kemudahan yang dinikmati semua orang terasa merendahkan gengsi mereka.
Dan doa itu dikabulkan dengan cara yang tidak mereka bayangkan. Bendungan mereka jebol, kebun-kebun berganti pohon-pohon berbuah pahit, dan penduduknya tercerai-berai ke berbagai penjuru. Tinggal jadi cerita.
Katalog kemudahan
Jadi ingat kalau sedang membuka katalog dan penawaran travel umrah yang bermacam-macam.
Dari sisi pesawat, ada yang langsung, ada yang transit. Kalau transit di negara Arab seperti Doha, Abu Dhabi, atau Muscat, itu biasa. Tapi sekarang ada juga yang transit di Hainan, di Manila, dan tempat-tempat lain. Semua ada alasannya. Semua karena ada harganya.
Dari sisi hotel, ada yang menjual jarak. Ada yang di pelataran masjid. Ada yang sedikit di belakang, di area Jabal Omar, semacam ring dua. Ada yang sekadar bintang tiga setara, entah berapa jaraknya, biasanya di atas lima ratus meter. Harganya pun bermacam-macam.
Belum lagi tambahan tur, layanan handling, kereta cepat Makkah Madinah, dan seterusnya.
Semuanya kemudahan yang bisa dipilih, tergantung anggaran dan kebutuhan.
Generasi kakek-nenek kita dulu tidak punya katalog. Mereka berangkat naik kapal laut, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di tengah samudra. Sebagian tidak pernah kembali. Keluarga yang ditinggal tidak tahu kabar sampai rombongan pulang.
Kita ini sedang hidup di zaman qura zhahirah. Persinggahan yang saling terlihat, jarak yang terukur, perjalanan yang aman malam dan siang. Bahkan jaraknya bisa kita pilih sendiri.
Dan pertanyaan dari Surat Saba’ untuk kita: apakah kemudahan itu kita syukuri, atau justru kita keluhkan?
Doa Saba’ tidak selalu diucapkan dengan lisan. Kadang bentuknya keluhan.
Memang isinya berbeda. Saba’ minta perjalanan dipersulit, sedangkan kita biasanya minta dipermudah. Tapi sikapnya sama: kemudahan sudah tidak lagi terasa sebagai pemberian. Sudah berubah jadi hak.
Dan begitu sesuatu dianggap hak, yang tersisa cuma dua kemungkinan. Kalau ada, dianggap wajar. Kalau berkurang sedikit, jadi bahan keluhan. Tidak ada lagi ruang untuk berterima kasih.
Itulah yang membuat Saba’ kehilangan semuanya. Bukan karena mereka meminta yang aneh, tapi karena mereka sudah berhenti melihat pemberian sebagai nikmat.
Sedikit sekali yang bersyukur
Beberapa ayat sebelumnya, di surat yang sama, ada perintah kepada keluarga Nabi Dawud:
اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا ۗ وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Saba’: 13)
Perhatikan kata kerjanya: i’malu, bekerjalah. Bukan “ucapkanlah syukur”, tapi “kerjakanlah syukur”. Syukur itu amal, bukan cuma kalimat.
Dan penutupnya jujur sekali: sedikit sekali yang bersyukur. Bukan sedikit yang beriman, bukan sedikit yang beribadah. Sedikit yang bersyukur.
Syukur yang dikerjakan
Di perjalanan umrah kami yang terakhir, kami mencoba aim high. Berikhtiar memakai kesempatan shalat berjamaah di Masjidil Haram seoptimal mungkin.
Dimulai sebelum jam empat pagi, untuk mendapatkan tempat terbaik shalat Subuh. Itu pun kadang masih kurang pagi. Lalu menunggu sampai syuruq. Menyempatkan tawaf. Di sini tantangannya: ingin ke kamar mandi, padahal masih sekian putaran.
Sebelum Dzuhur kembali datang di awal, berburu tempat, jangan sampai terlempar ke atap. Ashar juga demikian. Maghrib disambung dengan Isya.
Waktu terasa singkat sekali. Jumlah langkah per hari di atas sepuluh ribu.
Yang istimewa, selain bersama sang terkasih, kami juga kompak dengan keluarga Bapak Irwan dan istri. MasyaAllah. Setiap kami tawarkan, jam sekian siap-siap, walau masih sebelum jam empat pagi, beliau dan istri selalu menyanggupi.
Jangan sampai aku mengeluh capek. Istriku tidak mengeluh. Pak Irwan dan istri pun tidak mengeluh. Masa aku mengeluh.
Kalau dipikir-pikir, ritme seperti itu memang sangat melelahkan. Tapi alhamdulillah, ketika memilih hotel, kami diberi kesempatan mendapatkan hotel yang cukup dekat untuk aktivitas tersebut. Tak terbayangkan jamaah lain yang hotelnya lebih jauh. Tentu mereka lebih lelah lagi.
Jadi tidak ada tempat untuk mengeluh.
Aku tidak menulis ini untuk menunjukkan apa-apa. Aku menuliskannya karena di situlah aku memahami ayat tadi. Hotel yang dekat itu kemudahan. Dan cara mensyukurinya bukan dengan tidur lebih lama karena jaraknya pendek, tapi dengan datang lebih awal karena jaraknya pendek. Kemudahan dipakai untuk menambah ibadah, bukan untuk menambah istirahat.
Itulah i’malu syukra. Syukur yang dikerjakan.
Ayat 19 tadi ditutup dengan dua sifat: shabbar dan syakur. Sabar dan syukur. Sabar ketika ada yang kurang, syukur ketika ada yang dimudahkan. Dua-duanya bekal perjalanan.
Kenapa perlu madrasah
Sebelum berangkat umrah waktu itu pun, kami menyempatkan diri untuk memperdalam ilmu dan hikmahnya lebih dulu.
Kami tidak mau menghadap Ka’bah tapi terasa hambar, karena tidak tahu ilmunya. Kami tidak mau hanya mengejar ingin dekat atau ingin menyentuh Hajar Aswad, tapi tidak tahu apa hikmah dan sejarahnya. Kami tidak mau melewati Hijr Ismail, naik ke bukit Safa, berjalan ke Marwah, tapi yang bekerja hanya kaki.
Kami ingin setiap aktivitas fisik di sana disertai bayangan: di tempat ini, pada saat itu, apa yang benar-benar terjadi.
Di Hijr Ismail, membayangkan bahwa tempat itu dulu bagian dari Ka’bah yang dibangun Ibrahim dan Ismail, dan di dekat situlah Hajar dan bayinya pertama kali ditinggalkan. Di bukit Safa, membayangkan seorang ibu berdiri di tempat yang sama, menatap ke segala arah mencari tanda kehidupan, sementara bayinya menangis kehausan di bawah sana. Di depan Hajar Aswad, membayangkan Rasulullah ﷺ sendiri meletakkannya dengan tangan beliau, di atas selembar kain yang diangkat bersama oleh para pemuka kabilah, supaya tidak ada yang merasa ditinggalkan.
Tanpa ilmu, semuanya cuma gerakan. Dengan ilmu, setiap langkah jadi pertemuan dengan sejarah.
Dan Surat Fathir di juz ini seperti sedang membicarakan hal yang persis sama. Ada empat perbandingan yang disusun berturut-turut:
وَمَا يَسْتَوِى الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُ ۙ وَلَا الظُّلُمٰتُ وَلَا النُّوْرُ ۙ وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُوْرُ ۚ وَمَا يَسْتَوِى الْاَحْيَاۤءُ وَلَا الْاَمْوَاتُ
“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak pula sama orang yang hidup dengan orang yang mati.” (Fathir: 19–22)
Buta dan melihat. Gelap dan cahaya. Teduh dan terik. Hidup dan mati.
Perumpamaan teduh dan terik itu terasa sekali di sana. Berdiri di halaman Masjidil Haram waktu Dzuhur, bedanya terlindungi dan terkena sinar matahari langsung itu nyata di kulit, tidak perlu dijelaskan.
Dan begitulah bedanya orang yang tahu dengan orang yang tidak tahu. Dua orang bisa berdiri di titik yang sama di depan Ka’bah, mengerjakan gerakan yang sama persis, lalu pulang dengan membawa hal yang sama sekali berbeda. Yang satu melihat. Yang satu hanya hadir.
Beberapa ayat sesudahnya, surat yang sama menyebutkan akibat dari melihat itu:
اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُا
“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama, orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28)
Ilmu yang benar melahirkan rasa takut dan haru di hadapan Allah. Bukan melahirkan rasa pintar.
Maka tujuan belajar manasik dan hikmahnya supaya nanti, ketika berdiri di depan Ka’bah, hati kita lebih bergetar dari sebelumnya. Karena kita tahu lebih banyak tentang apa yang sedang kita hadapi.
Orang yang tidak tahu bisa berdiri di depan Ka’bah dan merasa biasa saja. Orang yang tahu tidak akan bisa.
Laki-laki yang datang bergegas
Juz ini ditutup dengan permulaan Surat Yasin. Ada kisah sebuah kota yang didatangi para utusan, lalu penduduknya menolak dan mengancam. Di tengah penolakan itu, muncul seseorang:
وَجَاۤءَ مِنْ اَقْصَا الْمَدِيْنَةِ رَجُلٌ يَّسْعٰى قَالَ يٰقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِيْنَ
“Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas, dia berkata, ‘Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.'” (Yasin: 20)
Kata yas’a, bergegas, lagi-lagi berakar sama dengan sa’i. Kata yang sama yang aku temukan di Al-Isra’ ayat 19 pada hari pertama.
Orang ini datang dari ujung kota. Paling jauh. Tidak ada yang menyuruhnya. Dia cukup mendengar kebenaran, lalu bergegas mendatanginya.
Dan orang-orang yang datang ke tanah suci dari ujung-ujung bumi, dari kampung-kampung di Indonesia, dari Asia Tengah, dari Afrika, dari mana saja, semuanya sedang melakukan hal yang sama. Datang dari aqshal madinah, dari tempat yang paling jauh, dengan bergegas.
Termasuk jamaah yang hotelnya jauh, yang setiap pagi berjalan lebih lama dari kita, tapi tetap datang.
Nikmat itu
Kemudahan perjalanan adalah nikmat, bukan hak. Negeri Saba’ kehilangan semuanya justru karena bosan dengan kemudahan.
Syukur atas kemudahan itu bukan diucapkan, tapi dikerjakan. Hotel yang dekat dipakai untuk datang lebih awal. Waktu yang dihemat dipakai untuk ibadah yang lebih banyak. Dan ilmu yang dipelajari sebelum berangkat dipakai supaya setiap langkah di sana tidak hambar.
Perjalanan dimudahkan, semoga ibadah pun dimudahkan. Itulah doa kami, terus-menerus.
Semoga kita termasuk yang sedikit itu. Yang bersyukur.






