6 April, Juz 6
Bismillah.
Ada satu hal yang sering membuatku heran. Kenapa budaya buruk dan penyimpangan justru dilindungi, dirawat, bahkan diberi panggung? Contoh yang paling kelihatan adalah dukungan banyak pemerintahan di dunia terhadap gerakan homoseksual, padahal daya rusaknya terhadap tatanan sosial sudah terang benderang.
Membaca Bani Israel hari ini, aku mencoba menarik benang merahnya. Ternyata nyambung dengan pembahasan kemarin soal bagaimana kerusakan peradaban bermula, yaitu ketika penyimpangan naik pangkat menjadi sistem.
Juz 6 mengambil An-Nisa ayat 148 sampai Al-Ma’idah ayat 81, dan menjawab pertanyaan yang belum terjawab kemarin. Kenapa sistem yang jelas-jelas korup dan buruk bisa awet bertahun-tahun tanpa ada yang melawan?
Jawabannya bukan pada penguasanya, tapi pada mental masyarakatnya. Dan Juz 6 membedah mental itu sampai ke dasarnya.
Yang pertama dibongkar adalah kombinasi merasa berhak plus pengecut.
“Qālū yā mūsā innā lan nadkhulahā abadan mā dāmū fīhā, fadzhab anta wa rabbuka fa qātilā, innā hāhunā qāʻidūn.”
“Mereka berkata, ‘Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami hanya duduk menunggu di sini saja.'” (QS 5:24)
Situasinya, Nabi Musa memerintahkan mereka masuk untuk membebaskan tanah Kanaan. Begitu melihat musuhnya kuat, mereka menolak mentah-mentah. Kalimat terakhirnya yang paling kurang ajar, silakan kamu dan Tuhanmu yang berperang, kami duduk di sini saja. Psikologi menyebutnya mental merasa berhak, dan levelnya sudah akut. Merasa pantas menerima fasilitas dari Tuhan, tapi menolak memikul risikonya. Nabi dan Tuhan diperlakukan seperti pesuruh yang tugasnya membereskan semua masalah tanpa mereka perlu bergerak.
Harga yang harus dibayar untuk kepengecutan itu mahal sekali.
“Fa innahā muḥarramatun ‘alayhim arba’īna sanatan yatīhūna fīl-arḍ, fa lā ta’sa ‘alal-qaumil-fāsiqīn.”
“Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka janganlah engkau bersedih hati terhadap kaum yang fasik.” (QS 5:26)
Kenapa angkanya empat puluh tahun? Secara sosiologis, itu waktu yang dibutuhkan untuk mengganti satu generasi secara total. Allah membiarkan generasi tua yang bermental budak, banyak menuntut, dan penakut itu habis terkubur oleh waktu di tengah gurun. Sementara itu, di gurun yang sama, generasi baru digembleng menjadi orang-orang mandiri dan berani. Setelah generasi cengeng itu benar-benar habis, generasi baru inilah yang di bawah pimpinan penerus Musa, Nabi Yusha bin Nun, akhirnya masuk dan menaklukkan Kanaan.
Perubahan besar memang tidak bisa dititipkan pada pundak generasi yang penakut. Dan salah satu bentuk hukuman Allah untuk generasi yang tidak bisa diatur ternyata sederhana saja, mereka tidak dihancurkan, cuma dilewati. Diganti oleh generasi berikutnya.
Penyakit berikutnya menyerang cara mereka memandang Tuhan.
“Wa qālatil-yahūdu yadullāhi maghlūlah, ghullat aidīhim wa lu’inū bimā qālū, bal yadāhu mabsūṭatāni yunfiqu kaifa yasyā’…”
“Dan orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu (kikir).’ Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan mereka dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu…” (QS 5:64)
Waktu ekonomi mereka sulit, yang muncul bukan introspeksi, tapi tuduhan kepada Tuhan. Teologinya sudah rusak sampai ke akar, karena kasih sayang Allah diukur murni dari angka di rekening. Lagi lapang berarti disayang, lagi sempit berarti Tuhannya pelit.
Yang ketiga adalah bagian yang paling membuatku tidak nyaman, karena ini bukan tentang penguasa, tapi tentang orang biasa seperti aku.
“Lu’inal-ladzīna kafarū min banī isrā’īla ‘alā lisāni dāwūda wa ‘īsabni maryam, dzālika bimā ‘ashau wa kānū ya’tadūn.”
“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (QS 5:78)
“Kānū lā yatanāhauna ‘an munkarin fa’alūh, labi’sa mā kānū yaf’alūn.”
“Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.” (QS 5:79)
Sebabnya bukan karena mereka semua jahat, tapi karena mereka berhenti saling menegur. Kejahatan merajalela bukan cuma karena ada orang jahat, melainkan karena orang-orang yang merasa dirinya baik memilih diam. Sosiologi menamainya bystander effect, sikap menonton tanpa berbuat apa-apa. Begitu masyarakat jadi apatis, mentoleransi keburukan demi kenyamanan sendiri, dan mematikan fungsi kontrol sosialnya, saat itulah laknat sejarah datang menjemput, persis seperti yang dulu disuarakan lewat lisan Nabi Daud dan Nabi Isa.
Menariknya, di tengah semua tabiat gemar menumpahkan darah itu, Allah justru menurunkan standar kemanusiaan yang paling tinggi kepada mereka.
“Min ajli dzālika katabnā ‘alā banī isrā’īla annahū man qatala nafsam bi-ghairi nafsin au fasādin fil-arḍi fa ka-annamā qatalan-nāsa jamī’ā, wa man aḥyāhā fa ka-annamā aḥyan-nāsa jamī’ā.”
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (QS 5:32)
Satu nyawa yang tidak bersalah setara dengan seluruh penduduk bumi. Aturan setinggi itu diturunkan justru kepada bangsa yang paling sering melanggarnya.
Kalau ditarik dari awal, urutan penyakitnya makin jelas. Juz 1 merusak cara berpikir lewat rasa paling benar dan kebiasaan memperumit perintah yang jelas. Juz 2 merusak kejujuran dan komitmen. Juz 3 merusak moral dan teologi lewat standar ganda dan manipulasi agama. Juz 4 mulai menyerang pembawa kebenaran, dari nama baiknya sampai nyawanya. Juz 5 melembagakan semuanya menjadi sistem yang korup. Dan Juz 6 menjelaskan kenapa sistem seperti itu bisa awet, yaitu karena masyarakatnya memilih diam.
Tetiba aku ingat kebijakan seperti MBG yang jelas-jelas buruk, penuh celah korupsi bagi oknum aparat dan partai, dan tetap berjalan saja dari hari ke hari dengan segala kekonyolannya.
Jangan-jangan aku bagian dari masyarakat yang diam itu. Selama ini paling banter cuma menggerundel di belakang, sementara tindakan nyata untuk menentangnya hampir tidak ada. Padahal keberanian memikul tanggung jawab dan mencegah keburukan itu harga mati buat sebuah bangsa, supaya kita tidak perlu di-reset ulang oleh sejarah seperti Bani Israel yang terbuang empat puluh tahun di padang pasir.
Wallahu a’lam.


