19 Juli, Juz 19
Bismillahirrahmanirrahim.
Kalau di rumah mulai ada tanda-tanda argumen, entah sama anak atau sama istri, aku biasanya langsung bilang, “udah, jangan berargumentasi dulu, jalankan pelan-pelan saja.” Sudah jadi semacam refleks. Argumentasi dibalas argumentasi, dari ayah atau bunda, ujungnya hampir selalu sama, emosional, bukan solutif.
Anakku sendiri pernah bilang itu terasa kayak dipotong duluan sebelum sempat ngomong. Wajar kalau dipikir-pikir lagi, itu bisa kedengaran egois.
Bacaan hari ini di Asy-Syu’ara ayat 18-21 kebetulan menyentuh persis hal ini. Fir’aun membuka dengan serangan personal ke Musa, “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara kami, waktu kamu masih kanak-kanak, dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu, dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak tahu membalas guna.” Ini pancingan klasik, mengharapkan Musa membela diri panjang lebar, atau balik menyerang soal perbudakan Bani Israil.
Musa tidak masuk ke situ. “Musa menjawab, aku telah melakukannya, sedang aku ketika itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul.” Singkat. Mengakui perbuatannya, menjelaskan alasannya, lalu langsung pindah ke inti urusan sebenarnya. Tidak ada tarik-menarik soal siapa yang lebih salah.
Ada satu model di buku The Decision Book (Krogerus & Tschäppeler) yang pas dengan pola ini, namanya The Consequences Model, dari bab How to Improve Yourself. Intinya, keputusan yang diambil cepat, terutama saat mengakui kesalahan, meminimalkan konsekuensi buruk dibanding ditunda atau dibungkus pembelaan panjang. Makin lama seseorang berkilah, makin besar ruang bagi lawan bicara untuk terus menyerang, dan makin banyak energi emosional yang terbuang percuma.
Musa tetap kasih fakta, tetap menjelaskan. Yang dihindarinya cuma satu, membiarkan percakapan berputar di lingkaran saling menyerang tanpa ujung. Jadi mungkin bukan soal memotong argumen anak sama sekali, tapi soal tidak membiarkan satu argumen memancing argumen balasan sampai tidak jelas lagi ujungnya di mana.
Ya Allah, ajari aku menyampaikan kebenaran tanpa perlu menang dalam perdebatan, dan jaga rumah kami dari argumentasi yang mengalahkan kasih sayang.
Wallahu A’lam.


