20 Juli, Juz 20
Bismillahirrahmanirrahim.
Surat Al-Qashash turun di salah satu titik paling berat dalam perjalanan Rasulullah SAW di Makkah. Khadijah sudah wafat. Abu Thalib sudah tiada. Pintu Tha’if sudah ditutup dengan lemparan batu. Hijrah bukan lagi pilihan, tapi satu-satunya jalan yang tersisa.
Di tengah tekanan seberat itu, Allah menurunkan kisah Nabi Musa. Bukan Musa yang membelah laut, bukan yang berhadapan langsung dengan Fir’aun. Tapi Musa yang sedang lari sendirian, tangan kosong, tidak tahu apa yang menunggu di depan (ayat 21). Ia meninggalkan Mesir sebagai buronan, berjalan ke Madyan tanpa bekal, tanpa kenalan, tanpa rencana jelas (ayat 22). Persis kondisi yang akan segera dihadapi Rasulullah SAW saat meninggalkan Makkah.
Aku selalu ingin menuliskan ulang kisah ini karena detailnya begitu kaya, dan hikmahnya banyak sekali, termasuk soal bagaimana laki-laki dan perempuan semestinya bersikap satu sama lain.
Sampai di sumber air Madyan (ayat 23), Musa melihat dua perempuan menahan ternak mereka menjauh dari kerumunan, menunggu sabar sampai para penggembala lain selesai, karena ayah mereka sudah tua dan tidak bisa membantu. Musa yang lapar dan kelelahan tidak berpikir panjang, langsung membantu memberi minum ternak keduanya (ayat 24), bahkan mengangkat sendiri batu penutup sumur yang menurut riwayat Ibnu Abbas butuh sepuluh orang untuk mengangkatnya. Setelah itu ia menepi, berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku” (ayat 24), tanpa minta imbalan, tanpa memperkenalkan diri, tanpa mencari perhatian sedikit pun ke kedua perempuan itu.
Dari tindakan kecil itu semuanya bermula. Salah satu perempuan itu kembali menjemputnya, berjalan dengan malu-malu (ayat 25), atas perintah ayahnya, Nabi Syu’aib, membawa undangan untuk membalas jasanya. Menurut riwayat yang dicatat Ibnu Katsir, dalam perjalanan pulang, perempuan itu semula berjalan di depan, tapi angin sempat menyingkap sedikit bagian pakaiannya. Musa yang menjaga pandangan lalu meminta perempuan itu berjalan di belakangnya saja, cukup memberi arahan lewat lemparan kerikil kalau ia salah ambil jalan.
Yang membuatku selalu berhenti lama di bagian ini, rekomendasi yang diberikan perempuan itu pada ayahnya, ringkas tapi dalam (ayat 26):
يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
“Wahai ayahku, jadikanlah dia sebagai pekerja pada kita. Sesungguhnya orang yang paling baik untuk dipekerjakan adalah yang kuat lagi dapat dipercaya.”
Dua kata saja, qawiy dan amin. Qawiy itu kuat, kompeten, kemampuannya bisa diandalkan. Amin itu jujur, amanah, bisa dipegang kata-katanya. Ketika ayahnya bertanya dari mana ia bisa menilai begitu cepat, perempuan itu punya jawaban konkret (menurut riwayat Ibnu Mas’ud dan yang lain), ia melihat sendiri Musa mengangkat batu yang biasanya butuh sepuluh orang, dan ia melihat langsung bagaimana Musa menjaga adab dalam perjalanan pulang tadi. Bukan tebakan, tapi observasi dari dua peristiwa nyata.
Sang ayah lalu menawarkan pernikahan dengan salah satu putrinya, dengan mahar bekerja menggembala delapan tahun, atau sepuluh tahun kalau Musa berkenan menyempurnakannya (ayat 27). Musa menerima, dan kesepakatan itu ditegaskan berlaku jujur di antara keduanya, tanpa paksaan dari pihak manapun (ayat 28).
Musa yang datang dari titik nol, tanpa riwayat kerja, tanpa koneksi, tanpa modal apapun selain dirinya sendiri, mendapatkan pekerjaan, pasangan hidup, dan fondasi kehidupan baru. Bukan karena keberuntungan yang kebetulan lewat, tapi karena qawiy dan amin itu sudah ada dalam dirinya, terpancar bahkan dari tindakan sekecil menolong dua orang asing di sumur.
Ada satu cara menarik untuk membaca proses penilaian singkat Nabi Syu’aib terhadap Musa ini, mirip dengan The SWOT Analysis di buku The Decision Book (Krogerus & Tschäppeler), dari bab How to Improve Yourself. Model ini biasa dipakai mengevaluasi sesuatu dari empat sisi, kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman, sebelum mengambil keputusan penting. Yang menarik, penilaian di ayat 26 ini justru sangat efisien, cuma dari dua observasi singkat, mengangkat batu dan menjaga adab, Nabi Syu’aib sudah berani mengambil keputusan besar, mempekerjakan sekaligus menikahkan putrinya dengan orang asing yang baru ditemui hari itu. Bukan gegabah, tapi karena dua indikator itu memang cukup mewakili apa yang paling penting dinilai dari seseorang sebelum dipercaya memegang tanggung jawab.
Sebagai leader, aku pernah punya anak buah yang skillnya tajam, kontribusinya nyata, hasil kerjanya bisa diandalkan. Tapi ada sesuatu yang mengganjal, aku sering menangkap kesan ia menyembunyikan sesuatu, entah apa, rasanya ada yang tidak transparan. Dari situ, muncul keraguan yang sulit hilang meski hasilnya bagus.
Di sisi lain, ada juga anak buah yang jujur, terbuka, niatnya baik, tapi aku sering kelelahan mengarahkannya. Hal-hal yang menurutku sudah jelas, harus dijelaskan berulang kali. Progresnya lambat.
Dua orang, dua masalah berbeda. Aku sering sibuk menilai mereka, padahal pertanyaan yang lebih penting sebenarnya, apakah aku sendiri sudah cukup baik sebagai pemimpin bagi keduanya. Kalau yang skillful itu menyembunyikan sesuatu, mungkin ada yang kurang dalam cara aku membangun kepercayaan dengannya. Kalau yang jujur itu lambat berkembang, mungkin ada yang kurang dalam cara aku membimbingnya. Bukan cuma soal menilai mereka, tapi soal bagaimana aku bertanggung jawab membawa keduanya sampai ke garis akhir.
Qawiy dan amin bukan cuma standar yang aku tuntut dari tim. Lebih dulu, itu standar yang harus aku pegang untuk diriku sendiri. Karena seperti Musa, yang menyelamatkan seseorang saat terpaksa memulai dari titik nol bukan jabatan atau koneksi, tapi kompetensi dan integritas yang sudah dibangun jauh sebelum krisis itu datang.
Wallahu a’lam.


