26 April, Juz 26
Bismillah.
Juz 26 membentang dari Al-Ahqaf ayat 1 sampai Az-Zariyat ayat 30, dan di dalamnya ada Surat Muhammad yang juga dikenal sebagai Surat Al-Qital, lalu Al-Fath, dan Qaf yang merekam jejak kehancuran bangsa-bangsa tiran.
Yang aku dapat dari juz ini bukan soal seberapa kuat mereka, melainkan soal apa yang sebenarnya mereka takuti.
Petunjuk pertamanya ada pada pilihan sasaran. Rezim zalim berulang kali menjadikan ilmuwan sebagai target operasi senyap, entah di bidang teknologi, kedokteran, atau sains murni. Orang-orang yang tidak memegang senjata, tidak memimpin pasukan, dan tidak berdiri di garis depan mana pun.
Pertanyaannya, kenapa justru mereka?
Karena kekuasaan yang berdiri di atas kezaliman tahu betul bahwa yang paling mungkin merobohkannya bukan peluru, melainkan akal. Membunuh ilmuwan itu bukan tanda kekuatan. Itu pengakuan tidak langsung bahwa mereka tidak sanggup menang dalam pertarungan yang sesungguhnya, yaitu pertarungan gagasan dan peradaban. Kalau tidak bisa mengungguli, hilangkan saja sumbernya.
Alladzīna kafarū wa ṣaddū ‘an sabīlillāhi aḍalla a’mālahum… Walladzīna kafarū fata’sal lahum wa aḍalla a’mālahum.
“Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus segala amal mereka… Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus segala amal mereka.” (QS 47:1 dan 8)
Frasa aḍalla a’mālahum diulang dua kali dalam surat yang sama. Segala rancangan mereka dibuat sia-sia. Operasi yang direncanakan bertahun-tahun, daftar sasaran yang disusun rapi, semuanya berakhir tidak menghasilkan apa yang diinginkan. Ilmu tidak pernah mati bersama jasad pemiliknya. Yang justru sering terjadi, pengorbanan para pencari ilmu melahirkan satu generasi baru yang lebih banyak dan lebih sadar dari sebelumnya.
Ketakutan kedua tersembunyi di balik pameran kekuatan.
Wa kam ahlaknā qablahum min qarnin hum asyaddu minhum baṭsyan fanaqqabū fil-bilād, hal mim maḥīṣ.
“Dan betapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal mereka lebih hebat kekuatannya daripada mereka ini. Mereka telah menjelajah ke berbagai negeri. Adakah tempat pelarian (dari kebinasaan)?” (QS 50:36)
Kalimat penutupnya berupa pertanyaan yang tidak butuh jawaban. Hal mim maḥīṣ, adakah tempat melarikan diri. Kaum ‘Ad, Tsamud, dan peradaban-peradaban besar lain punya kekuatan fisik serta teknologi terbaik pada zamannya, dan mereka sudah menjelajah ke berbagai negeri. Tidak satu pun dari itu berguna ketika waktunya tiba.
Tidak ada imperium yang abadi. Yang membedakan cuma seberapa lama ia sempat merasa abadi sebelum jatuh.
Dan yang paling tidak bisa mereka sentuh justru bukan senjata, bukan pula pasukan.
Huwalladzī anzalas-sakīnata fī qulūbil-mu’minīna liyazdādū īmānam ma’a īmānihim…
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka.” (QS 48:4)
Sakinah itu bukan hilangnya ujian, melainkan kemampuan tetap tegak di dalam ujian yang belum juga selesai. Ia diturunkan ke dalam dada, tempat yang tidak bisa dijangkau rudal, tidak bisa diblokade, dan tidak bisa dimasukkan ke daftar sasaran.
Aku memikirkan orang-orang yang di tengah kepungan itu masih menikahkan anaknya, masih membuka kelas darurat di antara reruntuhan, masih menanam sesuatu di tanah yang belum tentu aman besok pagi. Secara hitungan material, semua itu tidak masuk akal. Tapi justru itulah bentuk kemenangan yang paling sulit dipatahkan, karena musuh tidak punya alat untuk melawannya.
Jadi peta pertarungannya sebenarnya begini. Satu pihak berusaha membungkam akal dan memamerkan kekuatan, satu pihak lagi cuma bertahan menjaga kehidupan tetap berjalan.
Sejarah sudah berulang kali menunjukkan siapa yang bertahan pada akhirnya. Bukan yang paling kuat secara materi, tapi yang paling kokoh nilainya. Kezaliman bisa terlihat sangat mendominasi dalam jangka pendek, cuma ia memang tidak pernah punya masa depan.
Wallahu a’lam.


