Minggu ini aku kembali berolahraga rutin. Tiga kali sudah terlaksana, dan besok, hari Ahad, insyaAllah genap empat.
Lima belas tahun perjalanan diet dan olahraga mengajarkan satu hal: yang menentukan bukan seberapa hebat kita pernah, tapi apakah kita mau memulai lagi kalau suatu saat kita berhenti.
Tulisan ini menjadi pembuka seri Tambah Sehat, catatan perjalananku menjaga kesehatan di usia 50+.
Niatnya Sederhana
Wa man nu’ammirhu nunakkis-hu fil khalq, afalā ya’qilūn (QS Yasin: 68). Siapa yang dipanjangkan umurnya, dikembalikan kepada kelemahan. Tidakkah mereka berpikir?
Menua adalah sunnatullah. Otot berkurang, ingatan berkurang, kesabaran pun berkurang. Tapi ayat itu ditutup dengan ajakan berpikir, dan bagiku itu undangan untuk berikhtiar.
Maka niatku bukan sekadar menurunkan berat badan. Niatku menjaga amanah tubuh ini: tetap kuat untuk beribadah, tetap bugar untuk bekerja, dan tetap sehat untuk keluarga.
Arahnya Jelas: Jaga Otot
Aku memilih madzhab Ade Rai: pertahankan massa otot. Di usia 50+, otot adalah tabungan kesehatan. Ia menopang sendi, menjaga keseimbangan, dan membuat kita tetap mandiri sampai tua.
Caranya pun sudah jelas sesuai youtube channel yang aku ikuti:
- Latihan beban rutin, tiga sampai empat kali seminggu.
- Makan dengan cerdas: protein cukup, lemak baik, kalori terpenuhi.
- Ukur kemajuan bukan hanya dari timbangan, tapi dari kekuatan, stamina, dan seberapa jarang sakit.
Untukku yang Sedang Ingin Memulai
Kalau aku pernah rutin lalu berhenti, tidak apa-apa. Aku tidak perlu menunggu momen sempurna, tidak perlu program yang rumit. Mulai saja minggu ini, satu sesi dulu.
Aku dulu pernah berhasil, pasti bisa berhasil lagi. Kalau pun ada jeda, selalu ada hari pertama untuk memulai lagi.






