7 April, Juz 7
Bismillah.
Enam hari terakhir aku sibuk menguliti sejarah dan tabiat Bani Israel dari Juz 1 sampai Juz 6. Hari ini pertanyaannya aku balik. Bagaimana kalau penyakit itu bukan lagi milik mereka, tapi sudah pindah ke dalam diri kita sendiri?
Al-Qur’an memang tidak diturunkan untuk menghakimi satu bangsa di masa lalu. Yang dikoreksi adalah siapa pun yang bertabiat sama. Yang direkam pola, bukan kronologi. Allah menegaskannya di QS Yusuf ayat 111, bahwa kisah-kisah itu bukan dongeng, melainkan pelajaran bagi orang berakal. Artinya ada hukum sebab akibat yang berlaku. Siapa pun yang mengulang polanya akan menerima konsekuensi yang sama.
Dan bacaan hari ini justru berhenti di titik paling rawan, ketika pola dari Juz 1 sampai 6 mulai berpindah tangan dan berpeluang diulang oleh umat sesudahnya.
Aku coba jujur melihat kelakuan kita sehari-hari.
Mulai dari yang paling remeh, ketidaktaatan di jalan raya. Kita terbiasa menyepelekannya dengan alasan cuma pelanggaran kecil. Padahal dalam kacamata Qur’ani, ini masuk kategori meremehkan aturan, dan polanya persis seperti pelanggaran hari Sabat yang disinggung di QS An-Nisa ayat 47. Mereka juga tidak langsung melompat ke pelanggaran besar. Mereka mulai dari mengakali aturan-aturan kecil.
Lalu pedagang kaki lima liar dan kebiasaan merampas ruang publik. Bentuknya halus, tapi hakikatnya mengambil hak orang lain, dan Al-Qur’an memasukkannya sebagai kezaliman sosial. Ini bertabrakan langsung dengan prinsip amanah dan keadilan publik di QS An-Nisa ayat 58. Peradaban runtuh bukan cuma gara-gara kalah perang, tapi karena hak-hak publiknya dikorupsi sedikit demi sedikit oleh warganya sendiri.
Motor yang naik ke trotoar juga sama saja. Prinsipnya aku duluan, yang lain urusan belakangan. Dalam sejarah Bani Israel, ini persis tabiat mendahulukan kenyamanan diri sambil mengabaikan aturan bersama. Kalau ditakar secara psikologi sosial, ini menunjukkan betapa rendahnya kesadaran sosial kita.
Berikutnya soal yang lebih sensitif, keengganan membayar pajak atau iuran publik. Aku paham isunya tidak sederhana. Tapi secara prinsip, kalau sistemnya sah dan uangnya memang dipakai untuk kemaslahatan bersama, menghindarinya berarti lari dari tanggung jawab kolektif. Polanya nyambung dengan tabiat di Juz 2, lantang menuntut hak tapi mundur saat gilirannya memikul beban, sekaligus berkaitan dengan krisis amanah yang dibahas di Juz 5.
Yang paling terang benderang tentu praktik menyuap demi mempercepat urusan. Dalam Islam namanya risywah, dan pelakunya dilaknat. Praktik ini tersambung langsung dengan akar korupsi sistemik dan manipulasi hukum yang aku bedah kemarin. Ternyata yang rusak bukan cuma sistem di atas sana. Kita di level bawah ikut menyetor pelicin, jadi bagian dari mesin perusaknya.
Tapi Juz 7 memperlihatkan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan daripada sekadar daftar pelanggaran.
Masalah sebenarnya baru dimulai ketika pelanggaran itu dianggap biasa, lalu dibela, bahkan dicarikan pembenaran agamanya.
QS Al-Ma’idah ayat 87 memperingatkan supaya kita tidak mengharamkan apa yang Allah halalkan. Ini rambu supaya agama tidak dipelintir mengikuti selera manusia. Ayat 101 mengingatkan supaya tidak berlebihan bertanya sampai menyulitkan diri sendiri, sindiran halus untuk pola lama Bani Israel yang gemar berdebat tapi miskin ketaatan.
Puncaknya di QS Al-An’am ayat 110, ketika Allah menjelaskan bahwa hati bisa dibalik sehingga tidak lagi sanggup menerima kebenaran, gara-gara terlalu sering menolaknya.
Persoalannya bukan lagi tidak tahu mana yang benar. Persoalannya sudah tidak sanggup menerima yang benar. Dan menurutku inilah fase paling berbahaya dari seluruh siklus kehancuran peradaban.
Kalau dirangkum, urutannya selalu begitu. Pelanggaran kecil yang dibiarkan berubah jadi hal normal. Yang normal lama-lama menjadi budaya. Budaya yang mengakar dilembagakan menjadi sistem. Dan sistem yang korup itulah yang akhirnya menghancurkan bangsanya sendiri. Juz 7 menambahkan satu fase terakhir yang paling senyap, ketika hati sudah terbiasa, kebenaran tidak lagi terasa sebagai kebenaran.
Untungnya penawarnya juga diberikan, dan ringkas sekali.
Yang pertama takwa, yaitu kesadaran bahwa kita selalu diawasi, sehingga taatnya bukan karena ada polisi atau CCTV. Lalu amanah, sekecil apa pun tanggung jawabnya tetap dikerjakan dengan benar. Lalu ihsan sosial, komitmen untuk tidak merugikan orang lain sedikit pun. Dan yang paling berat, kejujuran dalam bersistem, keberanian untuk tidak ikut rusak walaupun semua orang di sekeliling kita melakukannya.
Karena mungkin masalah terbesar kita hari ini bukan tidak tahu mana yang benar, tapi sudah terlanjur nyaman dengan yang salah.
Wallahu a’lam.


