5 April, Juz 5
Bismillah.
Hari kelima aku menelusuri watak Bani Israel. Sebelum benang merahnya hilang, aku ingin berhenti sebentar dan menyambungkan semua yang sudah aku tulis. Tapi sebelum menoleh ke belakang, aku mau selesaikan dulu jatah bacaan hari ini.
Juz 5 mengambil An-Nisa ayat 24 sampai 147, dan ada pergeseran yang menurutku penting sekali. Juz-juz sebelumnya membedah penyakit pada level orang per orang dan kelompok. Kali ini yang dibedah lebih ngeri, karena penyakitnya sudah naik menjadi sistem. Bukan lagi soal ada oknum yang salah, tapi strukturnya sendiri yang rusak.
Kerusakan itu dimulai dari orang-orang yang justru paling paham ilmunya.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِّنَ الْكِتَابِ يَشْتَرُونَ الضَّلَالَةَ وَيُرِيدُونَ أَن تَضِلُّوا السَّبِيلَ
“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian dari Kitab (Taurat)? Mereka membeli kesesatan dan menghendaki agar kamu tersesat dari jalan (yang benar).” (QS 4:44)
Perhatikan kata “diberi bagian dari Kitab”. Mereka bukan orang awam. Mereka punya akses ke wahyu, tahu isinya, dan justru dengan modal itulah mereka bekerja. Ayat berikutnya menyebut caranya.
مِّنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ
“Di antara orang-orang Yahudi, ada yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (QS 4:46)
Kalimatnya tidak dihapus, cuma dipindahkan dari tempat semestinya. Maknanya dipelintir, konteksnya digeser, katanya dimainkan. Sekarang orang menyebutnya penguasaan narasi. Ilmu berhenti berfungsi sebagai cahaya dan berubah jadi alat kendali.
Setelah maknanya bisa diatur, giliran hukumnya yang diakali.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُم مِّن قَبْلِ أَن نَّطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَىٰ أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ
“Wahai orang-orang yang telah diberi Kitab! Berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah wajah-wajah(mu), lalu Kami putar ke belakang atau Kami laknat mereka sebagaimana Kami telah melaknat orang-orang yang berbuat maksiat pada hari Sabat.” (QS 4:47)
Kasus Sabat itu contoh yang paling telak. Aturannya jelas, hari Sabtu dilarang menangkap ikan. Mereka tidak melanggar secara terang-terangan, cuma menyiasati. Kalau dilihat dari kertas peraturannya, mereka tetap patuh. Kalau dilihat dari maksudnya, aturan itu sudah mati. Di dunia kerja modelnya persis sama, aturan dijalankan sesuai bunyi hurufnya sambil menghabisi ruhnya. Semuanya terlihat rapi di dokumen, padahal sedang merusak.
Dari kertas peraturan, kerusakan menular ke urusan jabatan.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS 4:58)
Ini bukan nasihat umum yang enak dikutip di spanduk. Ini teguran atas kegagalan besar yang berulang di sepanjang sejarah mereka. Amanah jatuh bukan ke yang mampu, tapi ke yang dekat, ke yang searah kepentingan, ke yang bisa diatur. Begitu kursi diisi orang yang salah, keruntuhan sistem bukan lagi kemungkinan, melainkan tinggal soal waktu.
Menariknya, di tengah pembahasan tentang kerusakan Ahli Kitab, Allah menegur umat Islam sendiri dengan standar yang sama kerasnya.
إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُن لِّلْخَائِنِينَ خَصِيمًا
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah engkau menjadi pembela bagi orang-orang yang berkhianat.” (QS 4:105)
Latar belakang turunnya ayat ini yang membuatku terdiam. Ada seorang muslim mencuri, lalu melempar tuduhan kepada seorang Yahudi yang tidak bersalah. Dan wahyu turun untuk membela si Yahudi yang dizalimi. Bukan membela yang seiman, bukan menjaga nama baik komunitas. Kebenaran tidak boleh tunduk pada identitas, sekalipun identitas itu identitas kita sendiri.
Puncaknya ada di ayat yang selalu membuat dadaku sesak setiap kali membacanya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu…” (QS 4:135)
Terhadap diri sendiri. Terhadap orang tua. Terhadap kerabat. Tidak ada pengecualian, tidak ada catatan kaki. Keadilan dalam Islam memang absolut, tidak pilih-pilih, tidak ikut suasana hati, dan tidak tunduk pada garis keturunan atau golongan.
Setelah lima hari, polanya baru kelihatan utuh kalau ditarik dari awal.
Juz 1 memperlihatkan cara berpikirnya yang rusak duluan, mulai dari merasa paling benar sampai kebiasaan memperumit perintah yang sudah jelas. Juz 2 menunjukkan rusaknya kejujuran dan komitmen, kebenaran disembunyikan padahal dikenali, dan tuntutan lantang berujung mundur teratur saat gilirannya tiba. Juz 3 naik ke wilayah moral dan agama, ketika standar ganda dan manipulasi doktrin diberi legitimasi. Juz 4 masuk ke tahap penyerangan, pembawa kebenaran dihabisi, entah nyawanya atau nama baiknya. Dan Juz 5 memperlihatkan tahap terakhir, ketika semuanya melembaga menjadi sistem, lengkap dengan hukum, jabatan, dan aparatnya.
Al-Qur’an sedang menunjukkan sesuatu yang tidak pernah aku sadari sebelumnya, bahwa kerusakan peradaban itu tidak pernah datang mendadak. Ia dibangun bertahap, dan tahapannya rapi.
Kalau diringkas dalam bahasa hari ini, urutannya kira-kira begini. Mulanya cuma bias kecil dalam berpikir, standar ganda yang belum ketahuan. Karena tidak ada yang menegur, ia dimaklumi sampai menjadi kebiasaan bertindak. Setelah jadi kebiasaan, dicarikan pembenaran, kalau perlu pakai dalil. Setelah punya pembenaran, dipertahankan mati-matian dengan kekuasaan. Dan langkah terakhir, dilembagakan menjadi sistem.
Peradaban yang sudah sampai tahap itu tidak lagi butuh musuh dari luar. Ia mati dari dalam, oleh sistem yang dibangunnya sendiri.
Wallahu a’lam.


