17 April, Juz 17
Bismillah.
Coba perhatikan apa yang terjadi waktu jari kita menggulir layar pagi ini. Video reruntuhan, angka korban, jenazah anak-anak yang dibungkus kain putih, semuanya lewat dalam hitungan detik. Lalu jari terus bergerak ke unggahan berikutnya, yang isinya resep masakan atau lawakan pendek. Dua tahun lalu satu video seperti itu bisa membuat kita tidak enak makan seharian. Sekarang lewat begitu saja.
Juz 17 mengambil Al-Anbiya ayat 1 sampai Al-Hajj ayat 78, dan tiga hal yang dibahasnya nyambung persis dengan keresahan itu. Bagaimana kebenaran akhirnya menghancurkan kebohongan, kenapa dunia bisa sekebas ini melihat pembantaian, dan siapa sebenarnya yang berhak mewarisi bumi.
Bal naqdzifu bil-ḥaqqi ‘alal-bāṭili fa yadmaghuhū fa idzā huwa zāhiq.
“Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap.” (QS 21:18)
Pilihan katanya keras sekali. Fa yadmaghuhū, dari akar kata yang berarti menghantam batok kepala sampai ke otaknya. Kebenaran tidak digambarkan sedang berdebat dengan kebatilan, tapi sedang menghantam pusat kendalinya sampai berhenti berfungsi.
Selama puluhan tahun narasi global dimonopoli mesin propaganda yang tersusun rapi. Sekarang mesin itu remuk, dan yang meremukkannya bukan pidato di forum internasional, melainkan rekaman mentah dari lapangan, laporan langsung, dan suara orang-orang biasa yang merekam nasibnya sendiri. Kebatilan yang dulu terlihat kokoh sekarang tampak rapuh, persis makna kata zāhiq di ujung ayat itu.
Cuma kebenaran semacam itu tidak datang gratis. Ia dibawa oleh jurnalisme yang berani, dan karena itulah balasannya brutal. Pembunuhan yang diarahkan langsung kepada para jurnalis, berulang kali, dengan pola yang terlalu rapi untuk disebut kesalahan teknis. Mereka yang gugur itu bukan sekadar korban perang, tapi pembawa cahaya yang meruntuhkan narasi palsu. Darah mereka justru bukti bahwa kebenaran sedang menang, dan harga itulah yang harus dibayar.
Tapi ada masalah kedua yang tidak bisa diselesaikan dengan menambah bukti.
…fa innahā lā ta’mal-abṣāru wa lākin ta’mal-qulūbul-latī fiṣ-ṣudūr.
“…karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS 22:46)
Buktinya sudah berlimpah, malah lebih banyak daripada yang sanggup ditonton siapa pun. Persoalannya bukan lagi orang tidak melihat. Pembunuhan jurnalis, rumah sakit yang dibom, anak-anak yang mati, semuanya sudah berubah jadi angka yang lewat di layar tanpa mengguncang apa pun. Orang menyebutnya kelelahan empati, dan diagnosis Al-Qur’an lebih tajam lagi. Matanya berfungsi normal, hatinya yang berhenti bekerja. Melihat tanpa merasa, tahu tanpa bergerak.
Kezaliman yang dinormalkan pelan-pelan mematikan nurani, dan itu tanda keruntuhan moral yang paling berbahaya, justru karena tidak terasa sakit waktu terjadi.
Yang ketiga berupa penegasan soal siapa yang berhak atas bumi ini.
Wa laqad katabnā fiz-zabūri mim ba’diż-żikri annal-arḍa yariṡuhā ‘ibādiyaṣ-ṣāliḥūn.
“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS 21:105)
Bukan yang paling kuat, bukan yang senjatanya paling canggih, bukan pula yang mengklaim punya garis keturunan istimewa. Yang disebut ‘ibādiyaṣ-ṣāliḥūn, hamba-hamba yang saleh. Siapa pun yang membangun kekuasaannya di atas penindasan dan pembantaian sebenarnya sedang menggugurkan haknya sendiri atas warisan itu. Kekuasaannya boleh terlihat besar, tapi tidak punya legitimasi sedikit pun di sisi Allah.
Jadi kebenaran memang pasti menghancurkan kebatilan, meski prosesnya panjang dan menyakitkan. Runtuhnya propaganda, terbongkarnya kebisuan dunia, dan gugurnya para pembawa berita bukan tanda kekalahan, melainkan bagian dari proses penyingkapan yang sedang berjalan.
Sejarah tidak pernah diwariskan kepada yang paling kuat, tapi kepada yang bertahan di atas kebenaran.
Dan tugasku bukan memastikan kemenangan itu datang hari ini. Tugasku memastikan hatiku belum ikut mati waktu kemenangan itu akhirnya datang.
Wallahu a’lam.


