7 Maret, Juz 7
Bismillah.
Hari ini tanggal 17 Ramadhan, malam Nuzulul Quran, peringatan turunnya wahyu pertama Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira, yaitu 5 ayat pertama Surat Al-Alaq. Meski Al-Quran secara utuh turun dari Lauh Mahfuz ke langit dunia pada Lailatul Qadar, proses pewahyuan pertama kepada Nabi terjadi pada malam yang kita peringati hari ini.
Di Juz 7 ada Surat Al-Maidah ayat 83, Allah menceritakan kisah menakjubkan tentang sekelompok manusia yang responsnya luar biasa saat berinteraksi dengan wahyu:
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Quran) yang telah mereka ketahui…”
Menangis, kapan ya aku bisa menangis ketika mendengarkan ayat Al-Quran dibacakan? Mataku jarang sekali gerimis, apalagi sampai bercucuran air mata.
Padahal secara fasilitas audio dan kualitas imam di masjid yang sering kukunjungi, sangat mumpuni. Dua masjid di dekat rumah bahkan punya karakter bacaan yang sangat istimewa dan berbeda.
Di Masjid Al-Akhbar, shalat sering diimami remaja-remaja hafidz Quran. Bacaan mereka indah, merdu, mendayu-dayu, dengan durasi ayat yang lumayan panjang. Sangat memanjakan telinga.
Sementara di Masjid Baitul Hakim, shalat dipimpin imam kami, Ustadz Imam Al-Hafidz. Beliau punya karakter berbeda, membacakan ayat dengan ritme cepat namun tetap sangat tartil, tegas, dan terjaga makhrajnya.
Keduanya punya pesona masing-masing. Tapi entah kenapa, suara semerdu di Al-Akhbar atau setartil di Baitul Hakim belum cukup ampuh meruntuhkan keangkuhan air mataku.
Di potongan Surat Al-Maidah ayat 83 tadi, Allah menyebutkan alasan mereka menangis: “mimmaa arafuu minal haqq”, yang artinya “karena mereka mengenali kebenaran”. Rasanya di situlah kuncinya.
Mereka menangis bukan semata karena melodi suaranya yang sedih, tapi karena akal dan hati mereka paham makna ayat yang sedang dibacakan. Menghayati itu mensyaratkan pemahaman.
Sebagai orang yang tidak fasih berbahasa Arab, sering saat imam membaca ayat tentang azab neraka yang mengerikan, aku malah menikmatinya seperti mendengarkan lagu berirama indah, semata karena tidak tahu artinya. Suara imam hanya berhenti sebagai penikmatan audio di telinga, belum menyentuh radar keimanan di hati.
Jadi, untuk bisa menghayati, sepertinya tidak ada jalan pintas selain mulai mengakrabkan diri dengan maknanya. Mungkin caranya dengan membaca terjemahan, dimulai dari ayat-ayat pendek yang sering dibaca imam shalat. Atau setidaknya, seperti yang sedang kuusahakan lewat jurnal harian ini, mengulik dan mentadabburi satu dua ayat setiap harinya.
Di Masjid Al-Akhbar, pada shalat maghrib imam biasanya membaca ayat-ayat pendek, berarti aku harus mulai menguasai arti dari surat-surat pendek itu. Sementara pada shalat subuh sering dibaca ayat yang lebih panjang dari Juz Amma. Dari situ pola bacaannya mulai kelihatan.
Harapannya, ketika imam melantunkan sebuah surat, ada satu dua kata yang nyantol di kepala. Saat makna itu terkoneksi dengan suara indah sang imam, di situlah biasanya hati mulai bergetar dan keangkuhan ego perlahan mencair.
Ya Allah, di momen Nuzulul Quran ini, kami memohon, lembutkanlah hati kami. Jangan jadikan Al-Quran hanya sekadar suara indah yang menumpang lewat di telinga kami, tapi jadikanlah ia cahaya kebenaran yang menembus, dipahami, dan dihayati hingga ke dasar hati.
Wallahu alam.


