23 Maret, Juz 23
Bismillah.
Pagi di pantai pesisir timur terasa begitu menggigit. Angin kencang menambah hawa dingin yang menusuk tulang.
Dalam kondisi seperti ini, tawaran sarapan hotpot yang mengepul di meja makan terasa sangat menggoda. Tapi kami harus menahan diri dari godaan lembaran daging sapi di dalam hotpot itu karena tidak terjamin kehalalan cara penyembelihannya.
Anakku sempat bertanya, “Masalah cara menyembelih itu kadang sulit dipahami, Yah. Kenapa sih harus wajib baca basmalah?”
Sambil menikmati sarapan alternatif yang aman, aku mencoba menjelaskan.
Sejak peradaban awal, manusia sudah biasa mengambil nyawa hewan, ada yang untuk makan, untuk persembahan, atau sekadar memuaskan keinginan. Lalu Islam datang meluruskan esensi ini.
Dalam bacaan Juz 23 hari ini, tepatnya Surat Yasin ayat 71-72, Allah berfirman:
Awa lam yaraw annaa khalaqnaa lahum mimmaa ‘amilat aidiinaa an’aaman fahum lahaa maalikuun. Wa dzallalnaahaa lahum faminhaa rakuubuhum wa minhaa ya’kuluun.
(Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka… Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka, maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan).
Ayat ini mengingatkan bahwa nyawa hewan itu milik Allah. Ketika kita memotongnya, kita pada hakikatnya sedang “meminta izin” kepada Sang Pemilik Kehidupan. Menyebut nama Allah (Bismillah) adalah bentuk adab, pengakuan bahwa kita ini hamba yang fakir, tidak berhak merampas nyawa makhluk lain tanpa izin Penciptanya.
Pelajaran tentang pengakuan pada Sang Pencipta ini berlanjut dalam perjalanan kami.
Pemandu lokal kami bercerita tentang fenomena masyarakat modern di negara ini yang mayoritas memilih untuk tidak beragama (ateis/agnostik).
Mendengar hal itu, aku sampaikan ke anak-anak bukan untuk menghakimi, tapi sebagai bahan pelajaran. Manusia memang cenderung mencari sandaran. Ketika tidak mengenal tauhid, kecenderungannya bisa ke dua arah, mewujudkan sandaran itu dalam bentuk visual seperti patung-patung atau sesembahan jenis lain, atau meninggalkan keyakinan sama sekali dan beralih bersandar penuh pada rasionalitas.
Masyarakat di sini sangat pekerja keras dan maju. Mereka merasa pencapaian teknologi dan ekonomi murni hasil dedikasi dan keringat mereka sendiri. Di satu sisi, etos kerja mereka sangat mengagumkan dan patut ditiru. Tapi di sisi lain, sebagai Muslim kita diingatkan oleh Surat As-Saffat ayat 95-96: “Apakah kamu menyembah (sesuatu) yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”
Ini jadi pengingat bagi diri sendiri, sehebat apa pun pencapaian atau teknologi yang kita “pahat” hari ini, jangan sampai membuat kita merasa tak lagi butuh Tuhan.
Menjelang siang, kami berkesempatan menjejakkan kaki di kawasan pegunungan berbatu di wilayah ini. Pemandangannya luar biasa indah, tebing batu megah ciptaan Allah bersanding dengan salju dan pohon pinus yang tangguh menahan dingin.
Di salah satu puncak tertingginya, tersisa reruntuhan benteng masa lalu. Sejarah mencatat, saat pasukan Mongol menyerang, sang raja justru mengungsi ke pulau, sementara rakyatnya di daerah ini pontang-panting bertahan hidup di atas gunung batu ini. Negara ini dulu selamat dari kepunahan berkat kompromi, rela menjadi negara bawahan (vessel) dari sebuah dinasti terbesar di dunia ini.
Melihat sejarah itu, tebersit rasa penasaran di benakku. Catatan sejarah menyebut ada banyak Muslim dan tokoh dari Asia Tengah di dalam birokrasi dinasti ini di masa itu. Apakah umat Muslim di era tersebut tidak punya cukup waktu atau kesempatan untuk mengenalkan tauhid ke masyarakat semenanjung ini? Ini misteri sejarah penyebaran Islam yang menarik untuk kutelusuri.
Sore harinya, kami memasuki ibu kota yang sangat maju, kreatif, dan dinamis. Melihat hamparan kota raksasa ini dari sebuah menara pandang, gedung-gedung dan infrastrukturnya tampak seperti miniatur. Ini bukti nyata betapa hebatnya akal manusia yang Allah karuniakan. Tapi melihatnya dari ketinggian juga menumbuhkan keinsafan, sebesar apa pun kota yang dibangun manusia, ia tetaplah titik kecil di bumi Allah yang luas. Sebuah pelajaran untuk terus rendah hati.
Di tengah kemegahan dan dinamika kota yang serba rasional ini, kami berkesempatan mampir ke sebuah masjid jami yang berdiri tegak di jantung kota. Berada di sini, melihat saudara dari berbagai ras dan bangsa menyatukan kening di lantai yang sama, rasanya sungguh menenteramkan.
Kontras dengan ketenangan masjid, malam kami ditutup dengan melintasi sebuah pusat perniagaan yang seolah tak pernah tidur. Lampu-lampunya benderang menerangi lautan manusia yang giat bertransaksi hingga dini hari. Aku mengagumi energi dan semangat juang warga kota ini dalam menggerakkan roda ekonomi.
Perpaduan pengalaman hari ini terasa sangat pas ditutup dengan renungan dari Surat Az-Zumar ayat 22: “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)?”
Kami belajar banyak dari kehebatan, sejarah, dan etos kerja negeri ini. Tapi safar ini juga menyadarkan kami betapa berharganya nikmat iman. Segemerlap apa pun dunia yang kita bangun, hati ini tetap membutuhkan “cahaya” untuk bisa benar-benar melihat arah jalan pulang.
Wallahu a’lam.


